Ketika Demokrasi Kehilangan Selera Humor

Ketika Demokrasi Kehilangan Selera Humor

Hasanainizar
(Koord. keilmuan JMQ, Founder Hahakamu Creative)

Catatan tentang rasa tersinggung dan cara kita merespons kritik

Demokrasi tidak pernah dirancang untuk membuat seorang nyaman. Ia hidup dari perbedaan, kritik, dan ketegangan. Humor, terutama satire lahir dari ketegangan itu. Ia bekerja dengan cara mengganggu, menyentil, bahkan kadang menyakitkan. Masalah muncul ketika humor tidak dijawab dengan argumen melainkan dengan laporan.

Kasus Pandji Pragiwaksono dalam materi stand up nya yang berjudul Mens Rea kemarin memicu banyak ketersinggungan. Namun seharusnya tidak dibaca dengan cara suka atau tidak suka pada materi stand up-nya. Fokus utamanya ada pada cara publik merespons rasa tersinggung. Dalam demokrasi tersinggung adalah hak namun menjadikan rasa tersinggung sebagai dasar pemidanaan adalah sebuah lompatan yang berbahaya.

Rasa tersinggung bersifat personal, cair dan sangat subjektif sedangkan hukum pidana justru bekerja sebaliknya, ia menuntut ukuran yang dingin dan objektif. Ketika perasaan dijadikan standar hukum, yang sedang diuji bukan hanya ucapan seseorang, tetapi daya tahan demokrasi itu sendiri. Ironisnya, bahkan hukum pidana menuntut pembuktian niatketat, sementara ruang publik sering kali lebih cepat menentukan siapa yang jahat dan siapa yang tidak.

Demokrasi yang sehat menuntut kedewasaan, termasuk kedewasaan untuk menahan diri. Tidak semua ucapan harus disukai dan tidak semua kritik harus diterima. Tetapi dalam demokrasi, ketidaksetujuan idealnya dibalas dengan bantahan, bukan pembungkaman. Jika setiap kritik yang menyinggung harus diseret ke aparat maka yang kita bangun bukan ruang publik tetapi ruang pengaduan.

Jalur hukum memang terlihat tegas dan memberi kepuasan moral. Namun ia juga cara paling cepat untuk menghentikan percakapan. Ketika hukum dipakai untuk menyelesaikan perbedaan tafsir, maka demokrasi akan berhenti beradu gagasan dan mulai menutup telinga. Di titik ini seni tidak lagi mati karena dilarang tapi karena terlalu terus diawasi.

Demokrasi tidak runtuh karena ada orang yang tersinggung. Ia mulai rapuh ketika rasa tersinggung dijadikan senjata untuk menghentikan kritik. Jika setiap humor harus melewati uji sensitivitas publik, maka demokrasi mungkin masih berdiri, tetapi ia kehilangan kemampuan untuk bisa berbeda tanpa harus merasa diserang.

Bahkan Firaun saja yang menjadi simbol tirani dalam sejarah masih mau berhadapan langsung degan Nabi Musa. Bukan karena ia adil tapi karena ia yakin dengan kekuasaanya. Ironisnya, hari ini menyampaikan aspirasi kepada penguasa justru sering dipersulit oleh sistem yang mengaku demokratis.