![]() |
| Gibran Ramadhan (Koord. Keilmuan JMQ, Sekjend Dema Universitas PTIQ Jakarta dan Official Mentor International Conference Santri Mendunia) |
Fomo organisasi. Di dunia kuliah, mahasiswa seringkali disibukkan dengan berbagai organisasi. Hal ini tentu bisa menjadi hal positif ataupun hal negatif. Menjadi hal positif jika mahasiswa tersebut tetap memprioritaskan kuliah sebagai tujuan utama disamping organisasi, bisa mengatur waktu dengan baik, memperluas relasi di organisasi, dan meningkatkan berbagai skill di organisasi seperti: kepemimpinan, teamwork, komunikasi, dan lain sebagainya. Sebaliknya, organisasi bisa menjadi hal negatif jika mengganggu kuliah mahasiswa, manajemen waktu kacau, sering rapat tanpa hasil, dan berbagai hal negatif lainnya. Jika kamu mahasiswa, coba renungkan, organisasi menjadi hal positif atau negatif bagi kamu?
Dalam tingkat yang lebih tinggi, mahasiswa yang berhasil mengambil banyak hikmah atau dampak positif berorganisasi akan naik tingkat. Ia akan jadi leader atau pemimpin. Jika kita berkaca pada kejadian akhir-akhir ini, banyak mahasiswa yang begitu antusias dan totalitas ketika akan berkontestasi kepemimpinan. Tentu, hal ini adalah sesuatu yang sangat positif karena Indonesia memiliki kader-kader pemimpin hebat di masa depan. Namun, hal ini bisa juga menjadi negatif jika kontestasi kepemimpinan hanya untuk fomo atau biar terlihat keren saja tanpa memahami substansi dari tujuan kepemimpinan tersebut. Positif-negatifnya tergantung dari sudut mana kita memaknainya.
Kemudian, bagaimana Islam memaknai kepemimpinan? Ada berbagai sumber yang bisa kita ambil sebagai hujjah dan pelajaran. Al-Qur’an , hadis, dan kisah sayyidina Umar bin Khattab akan kita bahas kemudian. Kita mulai dari kisah sayyidina Umar bin Khattab.
Ibrah kepemimpinan sayyidina Umar bin Khattab
Alkisah, sayyidina Umar bin Khattab menjadi khulafaur rasyidin kedua setelah sayyidina Abu Bakar. Beliau memimpin dari tahun 634 hingga 644 M. di tangan beliau, umat Islam berhasil memperluas wilayah kekuasaan Islam secara pesat (meliputi Mesir, Persia, Syam, Palestina), menegakkan keadilan dan kesejahteraan melalui sistem pemerintahan yang
terorganisir, serta meletakkan dasar-dasar peradaban Islam seperti pendirian lembaga keuangan (Baitul Mal) dan penetapan kalender Hijriah. Ada satu kisah unik di akhir masa pemerintahan beliau. Suatu waktu ketika para perwakilan umat Islam (majlis syura) bermusyawarah menentukan calon khalifah umat Islam untuk meneruskan perjuangan sayyidina Umar bin Khattab, mereka memasukkan nama Abdullah bin Umar sebagai kandidat kuat. Namun, sayyidina Umar bin Khattab menolak keras hal itu. Beliau mengatakan, “cukup musibah ini menimpa satu orang saja dalam keluargaku, jangan yang lain.” Begitulah sayyidina Umar bin Khattab menanggapi kepemimpinan.
Kepemimpinan dalam hadis riwayat Imam Bukhari
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah saw. membahas tentang kepemimpinan,
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ : كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
Artinya:
“Dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
Al-Qur’an juga menyorot tentang kepemimpinan. Dalam hal ini, akan kita bahas dua ayat, yaitu Q.S. Al-Baqarah ayat 30 dan Q.S Shad ayat 26.
Kepemimpinan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 30
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٣٠
Artinya:
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah13) di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama- Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Para mufassir memiliki berbagai penjelasan dalam menafsirkan ayat ini. Imam At-Tabari menjelaskan bahwa kata khalifah berarti pengganti atau pemimpin yang melaksanakan hukum Allah di bumi. Manusia diberi mandat untuk menegakkan keadilan, menjaga bumi, dan memakmurkannya sesuai petunjuk Allah. “Allah menjadikan manusia sebagai pengganti (wakil) untuk menegakkan perintah dan hukum-Nya di bumi, bukan untuk bertindak sewenang-wenang.” Sedangkan Ibn Katsir menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan kemuliaan manusia yang dipilih Allah sebagai pemimpin di bumi. Namun, jabatan ini juga mengandung tanggung jawab besar — manusia bisa menjadi pembawa berkah atau sumber kerusakan. Kemudian, Al-Qurthubi menambahkan bahwa kekhalifahan berarti tugas kepemimpinan dan tanggung jawab moral- spiritual untuk menegakkan kebenaran, bukan sekadar kekuasaan administratif.
Kepemimpinan dalam Q.S. Shad ayat 26
يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۢ بِمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَابِࣖ
Artinya:
“(Allah berfirman,) “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.”
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah langsung kepada Nabi Daud as. untuk menegakkan keadilan dan menjauhi hawa nafsu. Ibn Katsir menafsirkan “faḥkum bayna al-nāsi bil-ḥaqq” sebagai prinsip utama setiap kepemimpinan: hukum dan keputusan harus berdasarkan kebenaran ilahi, bukan kepentingan pribadi. Dalam tafsir Al-Qurthubi disampaiakan bahwa ayat ini menjadi dasar etika kepemimpinan Islam: pemimpin harus adil, jujur, dan sadar akan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Kepemimpinan adalah ibadah, bukan sarana kekuasaan. Dan Fakhruddin Ar-Razi dalam kitab Mafātīḥ al-Ghaib menyoroti hubungan antara kekuasaan dan pengendalian diri. Menurutnya, keadilan tidak akan tegak tanpa kemampuan pemimpin untuk mengendalikan hawa nafsunya.
Ibrah kepemimpinan dari ulama kontemporer
Berhubungan dengan kepemimpinan, Gus Baha juga pernah menyampaikan dalam ceramah beliau bahwa santri harus ada yang menjadi pemimpin atau masuk ke dunia politik. Mengapa? Agar pemilik otoritas atau pemangku jabatan tidak dipegang oleh orang yang fasik atau batil. Agar pemimpin bisa memberi manfaat yang besar dan luas kepada masyarakat.
Dari Al-Qur’an, hadis, dan para ulama, dapat diambil refleksi bahwa mahasiswa yang mengambil peran sebagai pemimpin itu sangat bagus dengan syarat mahasiswa tersebut harus menjadi pemimpin yang adil, berpegang pada kebenaran dan kebaikan, menegakkan hukum Allah, menebar manfaat sebesar-besarnya dan seluas-luasnya, serta tidak berbuat fasik, batil, sewenang- wenang dan tidak berbuat kerusakan.

