Film dokumenter karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale ini mengangkat realitas kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan yang menghadapi dampak ekspansi proyek perkebunan dan industri skala besar. Melalui dokumentasi investigatif, film menyoroti persoalan perampasan tanah adat, pembukaan hutan secara masif, hingga perubahan sosial yang dialami masyarakat lokal di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.
Dalam pemutaran tersebut, peserta diajak melihat bagaimana masyarakat adat seperti Marind, Muyu, Yei, dan Awyu berupaya mempertahankan ruang hidup mereka di tengah masuknya proyek pangan, bioetanol, dan investasi berskala besar. Film juga memperlihatkan bagaimana pembangunan yang dilakukan atas nama kemajuan sering kali meninggalkan luka sosial dan ekologis bagi masyarakat yang hidup paling dekat dengan alam.
Diskusi yang berlangsung setelah pemutaran film berjalan aktif dan penuh antusiasme. Berbagai pandangan muncul mengenai isu lingkungan, hak masyarakat adat, hingga posisi generasi muda dalam merespons persoalan kemanusiaan dan ketimpangan sosial di Indonesia.
Sebagai pemantik pada sesi diskusi, Hasanainizar selaku Koordinator Keilmuan JMQ menyoroti pentingnya membangun kesadaran kolektif terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Papua. Menurutnya, masyarakat tidak boleh abai terhadap isu-isu kemanusiaan dan lingkungan hanya karena terjadi jauh dari ruang hidup sehari-hari.“Film ini bukan hanya tentang Papua, tetapi tentang bagaimana kita memandang kemanusiaan, pembangunan, dan keberpihakan terhadap masyarakat kecil. Kita sebagai masyarakat Indonesia harus melek terhadap persoalan seperti ini dan tidak menutup mata. Ketika ada masyarakat yang kehilangan tanah, hutan, dan ruang hidupnya, maka sesungguhnya ada persoalan besar yang perlu kita pikirkan bersama,” ungkapnya dalam sesi diskusi.
Sementara itu, salah satu peserta diskusi dari kader JMQ, M. Amir Kayyis, turut menyampaikan pandangannya terkait pesan yang ia tangkap dari film tersebut. Menurutnya, Pesta Babi membuka kesadaran bahwa di balik narasi besar pembangunan, terdapat masyarakat yang sering kali harus menanggung dampak paling berat.
“Kadang kita menikmati hasil pembangunan tanpa pernah tahu siapa yang kehilangan tanahnya, hutannya, bahkan ruang hidupnya. Film ini menyadarkan kita bahwa ada banyak suara masyarakat kecil yang jarang didengar. Karena itu, anak muda jangan sampai apatis. Kita harus mulai peka terhadap persoalan sosial dan berani peduli terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, termasuk di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat perhatian,” ungkapnya dalam sesi diskusi.
Ia juga menilai bahwa ruang diskusi seperti yang diadakan JMQ penting untuk menjaga tradisi berpikir kritis di kalangan generasi muda. Menurutnya, film dokumenter bukan hanya media tontonan, tetapi juga sarana refleksi untuk memahami realitas sosial secara lebih mendalam.



